Bukan Sekadar Ritual, Ini Makna Beluluh Sultan Sebelum Erau Adat Kutai

img

Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Aji Muhammad Arifin menjalani prosesi Beluluh jelang Erau Adat Kutai 2026. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Beluluh Sultan bukan sekadar ritual yang dilakukan menjelang Erau Adat Kutai. Di balik prosesi yang dijalani Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Aji Muhammad Arifin, tersimpan makna penyucian diri sekaligus doa agar Sultan mendapat kekuatan dalam menjalani seluruh rangkaian adat Erau.

 

Prosesi tersebut digelar di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kamis (17/9/2026).

 

Hadir dalam kegiatan itu Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani, jajaran TNI-Polri, sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Kukar, serta para kerabat Kesultanan.

 

Pangeran Mangkupati Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Danur Dwi Jatmiko menyebut, Beluluh sebagai salah satu warisan budaya yang telah melewati perjalanan panjang Kesultanan Kutai.

 

Tradisi tersebut tetap dipertahankan dan menjadi bagian dari rangkaian Erau hingga saat ini.

 

“Maknanya itu pada intinya mensucikan diri dan ini adalah warisan budaya dari Kesultanan Kutai yang kami harapkan dapat terus berlangsung sampai kapan pun dan warisan ini terus akan kita jaga,” ujarnya.

 

Dalam pelaksanaannya, Beluluh juga berkaitan dengan kesiapan Sultan menghadapi rangkaian Erau.

 

Tahun ini, lanjutnya, rangkaian Erau berlangsung sekitar sembilan hari, mencakup tahapan pra-Erau hingga pasca-Erau.

 

“Mudah-mudahan Ayahanda Sultan ketika proses Erau berlangsung juga diberikan kekuatan lahiriah dan batiniah dan beliau itu dijaga supaya dapat menjalani proses Erau yang sangat berat,” tuturnya.

 

Prosesi Beluluh memiliki sejumlah perlengkapan dan tahapan yang masing-masing mengandung simbol. Salah satunya jalinan janur yang dilepas oleh para pejabat di hadapan Sultan.

 

Janur tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perlengkapan upacara, dalam pemaknaan Kesultanan, janur berkaitan dengan kekayaan yang berasal dari tanah Kutai.

 

Saat dilepas dan ditahan Sultan, prosesi itu dimaknai sebagai upaya membuang bala.

 

“Ketika janur itu dilepas dan Ayahanda Sultan menahan janurnya, maka membuang bala. Hampir mirip sebetulnya filosofinya dengan tempong tawar, tetapi berbeda secara harfiah untuk penggunaannya,” jelasnya.

 

Tahapan lain yang turut dilakukan adalah tempong tawar. Air diusapkan ke wajah para pejabat yang mengikuti prosesi sebagai bagian dari simbol adat.

 

“Maknanya sama saja untuk membersihkan diri. Wajah cerah itu seperti biar sehat secara fisik,” tuturnya.

 

Menurutnya, Beluluh pertama yang dilaksanakan menjelang Erau merupakan bagian yang wajib dijalankan Sultan. Prosesi serupa juga kembali hadir ketika memasuki pembukaan Erau.

 

“Beluluh pertama ini salah satu rangkaian pra-Erau dan ini juga wajib dilaksanakan Sultan dalam rangka mendoakan,” tegasnya.

 

Saat pembukaan Erau, Beluluh dilaksanakan pada sore hari dan kemudian dilanjutkan dengan Bepelas pada malam hari. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari tahapan adat yang harus dijalani selama Erau.

 

Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan Beluluh yang dilaksanakan hari ini menjadi prosesi awal dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026.

 

“Hari ini kita melaksanakan Beluluh pertama di Kesultanan. Kita menyaksikan prosesi adat yang merupakan bagian dari rangkaian Erau Adat Tahun 2026,”ujarnya.

 

Pemkab Kukar berharap seluruh tahapan Erau yang telah dipersiapkan bersama Kesultanan dapat terlaksana tanpa kendala hingga rangkaian terakhir.

 

“Kita harapkan dengan prosesi Beluluh ini pelaksanaan kegiatan Erau menjadi lebih lancar dan bisa berjalan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan,” pungkasnya. (Kriz)